BAB
I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Dizaman
modern seperti sekarang ini, mayoritas manusia tidak suka
terhadap kevakuman. Kapanpun ada pertanyaan dan masalah penting. Tradisi muncul
untuk menjembataninya, sehingga tercapai sebuah pemahaman.Namun banyak kita jumpai
tradisi yang palsu. Ada banyak ketidak cocokan dan pertentangan diantara
tradisi. Masalah serius muncul pada saat orang muslim harus menentukan tradisi
mana yang asli.
Selain
itu, ada juga begitu banyak pengaruh yang masuk ketiap-tiap
individu penduduk negara didunia, tidak terkecuali dengan negara yang
berpenduduk mayoritas muslim seperti Indonesia. Perkembangan IPTEK yang semakin
berkembang menjadikan kita semakin ingin mengetahui bagaimana perkembangan yang
dialami oleh negara- negara maju yang ada di luar sana, misalnya negara adidaya
yang mana mereka merupakan mayoritas non muslim. Ada begitu banyak faham yang
disebarkan dan mulai dianut oleh banyak negara misalnya liberalisme yang selalu
menjadi keinginan banyak orang. Keinginan untuk memperoleh kebebasan dalam
berkarya, berekspresi, maupun mengeluarkan pendapat. Terkadang keinginan itu
seolah-olah semakin jauh dari ajaran Islam yang dianut dan menurut norma yang
berlaku.
Maka
dari itu, setelah kita mengamati secara empiris fenomena yang ada, dirasa perlu
bagi kami untuk menjelaskan secara terperinci tentang “Doktrin Kepercayaan
Dalam Islam”. Agar orang islam sendiri dapat memahami dan dapat memakai hakikat
islam yang sesungguhnya.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa itu Dokrin ?
2.
Bagaimana islam
sebagai dokrin ?
3.
Bagaimana
Doktrin sentral dalam Islam ?
C.
Tujuan Penulisan
Makalah
1. Mahasiswa dapat mengetahui apa itu Dokrin
2. Mahasiswa mengetahui islam sebagai dokrin Agama islam
1. Mahasiswa dapat mengetahui apa itu Dokrin
2. Mahasiswa mengetahui islam sebagai dokrin Agama islam
BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN
DOKTRIN
Kata
doktrin berasal dari bahasa inggris yaitu “doctrine” yang berarti ajaran.
Oleh karena itu doktrin lebih dikenal dengaan dengaan ajaran-ajaran yang
bersifat absolute yang tidak boleh diganggu-gugat. Kata doktrin berarti
dalil-dalil darii suatu ajaran. Kesesuaian pengertian ini dapatt kita temukan
di lapangan bahwa suatu ajaran dalaam agama maupun yang lainya pasti mempunyai
dasar atau dalil-dalil.
Pengertian
yang sama juga dapatt ditemukan dalaam Kamus Besar Bahasa Indonesia, yaitu
“doktrin ialah ajaran atau asas suatu aliran politik, keagamaan; pendirian
segolongan ahli ilmu pengetahuan, keagamaan, ketatanegaraan secara bersistem,
khususnya dalaam penyusunan kebijakan negara”. Doktrin ialah ajaran-ajaran atau
pendirian suatu agama atau aliran atau segolongan ahli yang tersusun dalam
sebuah sistem yang tidak bisa terpisahkan antara yangg satu dengan yang
lainnya.
Dari
uraian pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa doktrin merupakan
ajaran-ajaran atau azas untukk mendirikan suatu agama atau
organisasi-organisasi lain yang ajaran-ajarannya bersifat absolute dan tidakk
bisa diganggu gugat.
B. ISLAM
SEBAGAI DOKTRIN
Agama
adalah suatu sistem kepercayaan kepada Tuhan yang dianut oleh sekelompok
manusia dengan selelau mengadakan interaksi dengan-Nya. Pokok persoalan yang
dibahas dalam agama adalah eksistensi Tuhan, manusia, dan hubungan antara
manusia dengan Tuhan. Tuhan dan hubungan manusia dengan-Nya merupakan aspek
metafisika,sedangkan manusia sebagai makhluk dan bagian dari benda alamtermasuk
dalam katagori fisika. Taib Thahir Abdul Muin mengemukakan definisi agama
sebagai suatu peraturan Tuhan yang mendorong jiwa seseorang yang mempunyai akal
untuk dengan kehendak dan pilihannya sendiri mengikuti peraturan tersebut, guna
mencapai kebahagiaan hidupnya di dunia akhirat.Ada empat unsur yang menjadi karakteristik
agama sebagai berikut :
Pertama,unsur
kepercayaan terhadap makhluk gaib, Kedua,unsur kepercayaan bahwa kebahagiaan
dan kesejahteraan di dunia ini dan di akhirat tergantung pada adanya hubungan
yang baik dengan kekuatan gaib yang dimaksud,
Ketiga,unsur
respon yang bersifat emosional darimanusia,
keempat ,unsur paham adanya yang kudus (secred) dan suci, dalam bentuk gaib,dalam bentuk kitab suci yang mengandung ajaran-ajaran agama yang bersangkutan,tempat-temoat tertentu, peralatan untuk menyelenggarakan upacara dan sebagainya.
keempat ,unsur paham adanya yang kudus (secred) dan suci, dalam bentuk gaib,dalam bentuk kitab suci yang mengandung ajaran-ajaran agama yang bersangkutan,tempat-temoat tertentu, peralatan untuk menyelenggarakan upacara dan sebagainya.
Adapun
ruang lingkup agama sebagai suatu sistem nilai meliputi tiga persoalan pokok,
yaitu :
pertama,
tata keyakinan atau credial, yaitu bagian agama yang paling mendasar berupa keyakinan akan adanya sesuatu kekuatan yang supranatural, Dzat YangMaha Mutlak di luar kehidupan manusia.
tata keyakinan atau credial, yaitu bagian agama yang paling mendasar berupa keyakinan akan adanya sesuatu kekuatan yang supranatural, Dzat YangMaha Mutlak di luar kehidupan manusia.
Kedua,
tata kepribadian atau ritual, yaitu tingkah laku dan perbuatan manusia dalam berhubungan dengan dzat yang diyakinisebagai konsekuensi dari keyakinan akan keberadaan Tuhan.
tata kepribadian atau ritual, yaitu tingkah laku dan perbuatan manusia dalam berhubungan dengan dzat yang diyakinisebagai konsekuensi dari keyakinan akan keberadaan Tuhan.
Ketiga,
Tata aturan, kaidah-kaidah atau norma-norma yang mengatur hubungan manusia dengan manusia, ataumanusia dengan alam lainnya sesuai dengan keyakinan dan peribadatan tersebut. Agama Islam merupakan satu-satunya agama yang paling sesuai untuk manusia.Islam datang dari Allah Pencipta manusia. Pencipta lebih tahu tentang kemampuan dan karakter yang diciptakannya. Oleh karena itu, Agama Islam akan sesaui dengan segaladimensi kemanusiaannya.Ajaran islam yang terhimpun dalam Al-Qur’an diturunkan Allah untuk mengatur seluruh aspek kehidupan manusia dimuka bumi, memberi petunjuk dasar kepada manusiaapa yang harus dilakukannya dalam rangka mencapai kehidupan yang sejahtera di duniadan di akhirat.Dengan demikian, Agama Islam menjadi dasar pedoman hidup bagi manusiadalam mengatur kehidupannya baik dalam hubungannya dengan Allah, hubungan dengansesame manusia serta dengan alam secara keseluruhan.
Tata aturan, kaidah-kaidah atau norma-norma yang mengatur hubungan manusia dengan manusia, ataumanusia dengan alam lainnya sesuai dengan keyakinan dan peribadatan tersebut. Agama Islam merupakan satu-satunya agama yang paling sesuai untuk manusia.Islam datang dari Allah Pencipta manusia. Pencipta lebih tahu tentang kemampuan dan karakter yang diciptakannya. Oleh karena itu, Agama Islam akan sesaui dengan segaladimensi kemanusiaannya.Ajaran islam yang terhimpun dalam Al-Qur’an diturunkan Allah untuk mengatur seluruh aspek kehidupan manusia dimuka bumi, memberi petunjuk dasar kepada manusiaapa yang harus dilakukannya dalam rangka mencapai kehidupan yang sejahtera di duniadan di akhirat.Dengan demikian, Agama Islam menjadi dasar pedoman hidup bagi manusiadalam mengatur kehidupannya baik dalam hubungannya dengan Allah, hubungan dengansesame manusia serta dengan alam secara keseluruhan.
C.
DOKTRIN-DOKTRIN SENTRAL DALAM ISLAM
1. IMAN
KEPADA ALLAH
Imam
ibnu Hibban dan al-Hakim Meriwayatkan dari Abu Said Al KHUDRI DARI Rasulullah bahwa
beliau bersabda :
Musa
Berkata : “ wahai Tuhanku, ajarkanlah kepadaku sesuatu yang dapat kupergunakan
untuk memuji dan Menyebut-mu”. Allah menjawab : “wahai Musa ucapkanlah, La
ilaha ila Allah!. “Musa berkata : “Wahai Tuhanku, semua hamba-Mu telah mengucapkannya”
Tuhan berkata : “Tidak apa-apa. Sekiranya tujuh lapis langit dan tujuh lapis
bumi berserta isinya, selain aku, diletakkan pada satu sisi timbangan dan pada
sisi timbangan lain diletakkan kalimat La ilaha ila Allah, niscaya timbangan
yang berisi La ilaha ilaAllah akan lebih berat dari sisi timbangan yang satunya
lagi.
(Moehammad Thahir Badri,1984:110) Kalimat La
ilaha ila Allah atau biasa di sebut dengan kalimatthayyibah adalah suatu
pernyataan pengakuan tentang keberadaan tentang keberadaan Allah Yang Maha Esa
:
Tiada Tuhan Selain Allah. Ini merupakan lafad
syahadatain yang harus di ucapkkan oleh seseorang yang akan masuk dan memeluk
agama Islam. Bentuk pernyataan pengakuan terhadap Allah berimplikasi pada
pengakuan-pengakuan lainnya yang berhubungan dengan Allah, seperti zat Allah,
sifat-sifat Allah, Kehendak Allah, af’al Allah, Malaikat Allah, para nabi dan
utusan Allah, hari Kiamat, serta surga dan neraka. Ia merupakan refleksi dari
tauhid Allah yang menjadi inti Ajaran dan kepercayaan dalam Islam. Oleh karena itu,
ia yang merupakan kalimat yang terdapat dalam hadis qudsi ini sangan sarat
nilai. Pengakuan terhadap keberadaan Allah berarti menolak keberadaan
tuhan-tuhan lainnya yang di anut oleh para pengikut agama selain Islam.
2. KEMUSTAHILAN
MENEMUKAN ZAT ALLAH
Allah
adalah Maha Esa, baik dalam zat, sifat maupun perbuatan. Esa dalam zat artinya
Allah itu tidak tersusun dari beberapa bagian yang terpotong-potong dan Dia pun
tidak mempunyai sekutu. Esa dalam sifat berarti bahwa tidak seorang pun yang
memiliki sifat-sifat yang dimiliki oleh Allah. Dan Esa dalam perbuatan (af’al)
ialah bahwa tidak ada seorang pun yang mampu mengerjakan sesuatu yang
menyerupai perbuatan Allah.
Allah dalam sifat rahman dan rahim-Nya, telah
membekali manusia dengan akal dan pikiran untuk digunakan dalam menjalankan
kehidupannya. Akal pikiran itu merupakan ciri keistimewaan manusia, sekaligus
faktor pembeda antara manusia dan mahkluk lainnya. Manusia dapat mencapai taraf
kehidupan yang mulia melalui akal pikirannya, sebaliknya, manusia pun dapat
terpuruk dalam kehidupan yang hina melalui akalnya. Akal, sekalipun telah
digunakan dengan sungguh-sungguh, keberadaannya tetap dalm ruang lingkup yang
terbatas. Artinya, ada sejumlah persoalan yang tidak dapat diselesaikan oleh
akal adalah Zat Allah. Dalam Al-Quran, Allah berfirman, “Allah tidak dapat
dicapai dengan penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan
itu dan Dia-lah yang Maha halus lagi Maha Mengetahui.” (QS.al-an’am [6]:103)
3.
ARGUMEN
KEBERADAAN ALLAH
Ada tiga teori yang menerangkan asal kejadian
alam semesta yang mendukung keberadaan Allah:
1) Paham
yang mengatakan bahwa alam semesta ini ada dari tidak ada (creatio ex-nihilo),
ia terjadi dengan sendirinya.
2) Paham
yang mengatakan bahwa alam semesta ini berasal dari sel (jaurah) yang merupakan
inti.
3) Paham
yang mengatakan bahwa alam semesta itu ada yang menciptakan. (Sayid Syabiq,
1974:61)
Teori pertama tampaknya sudah sangat
tidak relavan, ia dapat ditolak dengan teori sebab-akibat (causality theory).
Menurut teori kausalitas, adanya sesuatu itu disebabkan adanya sesuatu
yang lain. Dengan demikian, menurut teori ini, alam semesta tidak terjadi
dengan sendirinya tetapi melalui proses penciptaan, yang karenanya tentu ada
yang menciptakan.
Al-farabi, dengan teori pancaran
(emanasi)-nya, mengatakan bahwa alam semesta ini adalah hasil pancaran
dari wujud kesebelas atau akal kesepuluh. Jika diurut secara vertikal, maka
akal kesepuluh itu secara hierarkis adalah kelanjutan dari akal-akal
selanjutnya, yang berawal dari akal ynag pertama. Akal pertama (first
intelligence) adalah sebab pertama (prima causa).iya merupakan wujud pertama
yang melahirkan wujud-wujud berikutnya. Wujud pertama adalah Tuhan.
Selain Al-farabi, Ibnu Sina membangun
sebuah teori yang disebut teori wujud (filsafat wujud). Teori wujud dibangun
dalam upayamembuktikan eksistensi Tuhan. Menurut teori ini, sifat wujud lebih
penting dari sifat-sifat lainnya, meskipun sifat esensi (mahiyah) sendiri.
Esensi, menurutnya terdapat pada akal sedangkan wujud berada di luar akal.
Wujud menjadikan esensi yang berada di dalam akal mempunyai kenyataan di luar
akal. Oleh karena itu, esensi itu ada yang mustahil berwujud
(mumtani’al-wujud), ada yang mungkin berwujud (mumkin al-wujud) atau tidak
mungkin berwujud (gair mumkin al-wujud), dan ada pula yang msti berwujud (wajib
al-wujud). Dalam wajib al-wujud, esensi tidak mungkin berpisah dari wujud.
Wajib al-wujud adalah Tuhan yang terjadi dengan sendirinya. Oleh karena itu,
Tuhan itu mesti adanya (Harun Nasution, 1993: 27-28 dan 39-40). Adapun yang
mustahil wujud, mungkin wujud, dan tidak mungkin wujud adalah setiap selain
Tuhan.
Terhapat teori kedua yang mengatakan
bahwa alam semesta ini berasal dari sel, Sayid Syabiq (1974: 63)
melihatnya sebagai teori yang lebih sesat dari teori pertama. Menurutnya sel
tidak mungkin mampu menyusun dan memperindah sesuatu seperi yang terjadi pada
struktur alam semesta. Contohnya aspek gender dan tata surya.
Adapun teori ketiga yang mengatakan
bahwa alam semestaada yang menciptakan adalah reori yang bersesuaian dengan
pemikiran akal yang sehat. Oleh karena itu, baik secara aql maupun naql dapat
diterima. Masalah yang kemudian muncul dari teori ketiga ialah: siapakah yang
menciptakan alam semesta ini? Menurut dokrin islam, yang hal ini pun menjadi
akhidah dan keyakinan umat islam, pencipta alam semesta ini ialah Tuhan.
Jawaban itu membawa kepada pegertian bahwa Tuhan itu ada.
4.
IMAM KEPADA
MALAIKAT, KITAB, RASUL DAN KETETAPAN ALLAH.
a)
Malaikat Allah
Malaikat atau terkadang disebut al-mala’
al-a’la (kelompok tertinggi) adalah makhluk Tuhan yang diciptakan dari al-nur
(cahaya), seperti yang diterang dalam hadits riwayat imam Muslim yang
menjelaskan bahwa Allah Swt menciptakan malaikat dari cahaya, jin dari api, dan
Adam dari tanah. Penciptaan malaikat lebih dulu daripada penciptaan manusia.
Ketika Allah Swt berkehendak menciptakan manusia sebagai khalifah dari bumi,
Dia memberitahukan rencana-Nya itu kepada malaikat sehingga terjadi dialog
antara Dia dan malaikat.
Malaikat termasuk mahkluk ruhasi yang bersifat gaib.
Malaikat termasuk mahkluk ruhasi yang bersifat gaib.
Mereka bukan kelompok makhluk yang
berwujud jasmaniah yang dapat diraba, dilihat, dicium, dan dirasakan karena
mereka berada dialam yang berbeda dengan alam manusia. Mereka disucikan dari
syahwat kebinatangan (al-nafs al-hayawaniyah) yang terhindar dari keinginan
hawa nafsu yang bersifat material. Mereka selalu patuh dan tunduk kepada Allah
Swt dan tidak pernah ingkar kepadanyaDengan demikian, mereka menghabiskan waktu
siang dan malamnya untuk beribadah kepada Allah semata.Tidak seorang pun yang
mengetahui hakekat malaikat kecuali Allah Swt dan orang-orang yang telah
ditentukan-Nya, karena tidak didapatkan satu nas pun yang menjelaskan bentuk
dan hakikat malaikat (M. Taib Thahir Abd Muin, 1986:150). Akan tetapi, dalam
keadaan tertentu malaikat menampakkan dirinya dalam rupa manusia atau bentuk
lain yang dapat dicapaioleh rasa dan penglihatan manusia.Umpamanya, ketika
Malaikatb Jibril a.s. mendatangi Siti Maryam dalam rupa manusia (Q.S. Maryam
[19]:16-17), atau ketika mereka mendatangi Nabi Ibrahim a.s. untuk menyampaikan
berita gembira (Q.S. Hud [11]:69-73).
Malaikat adalah makhluk langit yang
mengabdi kepada Allah Swt yang masing-masing mempunyai tugas yang berbeda.
Antara malaikat satu sana lainnya memiliki beberapa perbedaan, seperti
kedudukan dan pangkatyang hanya diketahui oleh Allah Swr (Q.S. Fathir[35]:
Secara khusus, ayat tersebut menjelaskan
bahwa Allah Swt menciptakan malaikat sebagai mahkluk bersayap. Jumlah sayap
mereka berbeda-beda. Ada yang dua, tiga, empat, dan ada pula yang lebih dari
itu; tergantung dengan kehendak Allah Swt. Jumlah sayap tersebut, menurut Sayid
Sabiq (1978: 181), menunjukkan kedudukan dan status malaikat serta kemampuan
cepat dan lambatnya perpindahan mereka dari satu tempat ketempat yang lainnya.
Sayap-sayap yang dimiliki malaikat
tersebut hal gaib yang wajib dipercayai, tanpa memnbahas bagaimana warna,
bentuk, dan sifatnya, sebab Nabi Muhammad Saw sendiri tidak
menjelaskannya.Tugas malaikat itu ada yangdikerjakan dialam ruh dan ada pula
yang dikerjakan dialam dunia.Tugas malaikat dialam ruh ialah menyucikan atau
bertasbih serta taat dan patuh sepenuhnya kepada Allah Swt, memikul
‘arsy, memberi salam kepada ahli surga, dan menyisa pada ahli
neraka.
Adapun diantara tugas malaikat dialam
dunia ialah menurunkan wahyu yang diemban oleh malaikat Jibril. Ia
disebut juga ruh al-amin, atau ruh al-qudus. Adapun tugas
malaikat-malaikat yang lain adalah sebagai berikut: Malaikat Mikail mengatur
perjalanan bintang-bintang, menentukan musim seperti menurunkan hujan dan panas
serta menurunkan rezeki; Malaikat Ijrail (malak al-maut)bertugas mencabut
nyawa; Malaikat Israfil, bertugas sengkala atau nafiri ketika terjadi kismst
besar; Malaikat Raqib dan Atid bertugas mencata segala perbuatan manusia-Raqib
berada disebelah kanan manusia yang mencatat perbuatan bak, dan Atid berada
disebelah kiir manusia mencata perbuatan buruk; Malaikat Munkar dan nakir
bertugas memeriksa amal perbuatan manusia dialam kubur; Malaikat Malik bertugas
bertugas menjaga neraka, tempat manusia menerima sanksi sebagai balasan
perbuatan buruk mereka ketika hidup didunia. (Mahjuddin Shaf, 1975:98-99)
Jumlah malaikat itu banyak sekali dan
tidak diketahui secara pasti. Hal ini seperti yang terjadi pada Perang Badar
ketika Allah Swt menurunkan beribu-ribu malaikat yang membantu kaum Muslimin
untuk melawan musuh Islam yaitu bangsa Quraisy. Akan tetpi umlah mereka
yang banyak itu yang wajib diimani hanya sepuluh malaikat sepeti yang telah
dikemukakan terdahulu.
b) Kitab-Kitab Allah
Ayat-ayat Allah Swt yang merupakan
ajaran-ajaran dan tuntutan itu dapat dibedakam menjadi dua: pertama, ayat-ayat
yang tertulis didalam kitab-kitab-Nya; dan kedua, ayat-ayat yangbtidak
tertulis, yaitu alam semesta.
Ayat yang tertulis dapat diformulasikan
dalam empat kitab: Al-Quran, Injil, Taurat, dan Zabur yang masing-masng
diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw, Nabi Isa a.s, Nabi Musa a.s., dan Nabi
Dawud a.s. keempat kitab itu disebutkan kitab-kitab langit (al-kutub
al-samawiyah), karena kitab-kitab itu diyakini umat Islam sebagai firman Allah
yang diwahyukan kepda para nabi dan rasul. Hanya saja, kitab-kitab selain
Al-Quran sudah terkontaminasi oleh manusia sebagaimana diberitakan dalam
beberapa ayat dalam Al-Quran.
Islam mengajarkan bahwa mempercayai dan
mengimani semua kitab-kitab Allah itu adalah wajib. Ia merupakan konsekuensi
logis dari pembenaran terhadap adanya Allah Swt. Oleh karena itu, tidak
sepantasnya seoang mukmin mengingkari kitab-kita tersebut (lihat surah
al-Baqarah [2]:4).
a. Al-Quran
al-Karim
Al-Qurang
diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw diturunkan selama 22 tahun lebih dan
diturunkan di dua kota: Mekkah dan Madinah. Al-Quran dibagi menjadi 30 uz dan
terdiri atas 114 ayat.
Al-Quran
merupakan kitab langit terakhir yang diturunkan oleh Allah swt kepada nabi
terakhir pula. Sebagai kitab terkhir, Al-Quran menempati posisi yang sangat
penting; ia memiliki sejumlah keistimewaan apabila dibandingkan dengan kitab-kitab sebelumnya.
Dianatar keistimewaannya adalah pelanjut, penyempurna dalam arti penambah dan
pengurang atas muatan kitab-kitab sebelumnya, dan diberlakukannya tidak
dibatasi waktu. Secara rinci, keistimewaan- keistimewaan itu adalah pertama,
Al-Quran memuat ringkasan ajaran-ajaran yang dibawa oleh ketiga kitab
sebelumnya. Kedua, sebagai kitab terakhir, Al-Quran memuat kalam Allah terakhir
yang berperan sebagai petunjuk dan pemimpin bagi manusia didunia. Ketiga,
keberlakuan Al-Quran tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Keempat, Al-Quran
merupaka kitab suci agama Islam; karenaIslam agama dakwah, maka Al-Quran disebarkan
dan didakwahkan. Agar dakwah itu mudah dicerna dan dipahami, Allah telah
mewahyukan kalam-Nya itu dengan bahasa yang sangat mudah.(Sayid Sabiq, 1974:
263-7)
b. Kitab Injil
Kitab
Injib adalah firman Allah yang diwahyukan kepada Nabi Isa a.s. Ia hanya disyariatkan
untuk umat Nabi Isa a.s., yaitu kaum Nasrani. Oleh karen aitu,
diberlakukan Injil dibatasi oleh waktu, yaitu sampai saat datang dan diutusnya
Nabi Muhammad Saw. Mengimani kitab-kitab selain Al-Quran, termasuk kitab Injil,
merupakan doktrin dari rukun iman yang ketiga.
Pada mulany kitab yang disebut terakhir ini hanya memuat kalam Allah. Tetpi pada perkembangannya ternyata mengalami perubahan,yaitu dengan masuknya tulisan-tulisan para pengiktNabi Isa a.s. sehingga berubah dari bentuk dan isinya yang asli. Hal ini disyaratkan oleh Allah. Mereka memasukkan tulisannya kedalam Injil ialah Matius, Markus, Lukas, dan Yahya. Oleh karena itu, nama-nama kitab Injil yang ditemui sekarang diindentifikasikan dengan namanama mereka, sepertu Injil Matius, Injil Markus, Injil Lukas, dan Injil Yahya. (A. Hafidh Dasuki (red), 1994:224)
Pada mulany kitab yang disebut terakhir ini hanya memuat kalam Allah. Tetpi pada perkembangannya ternyata mengalami perubahan,yaitu dengan masuknya tulisan-tulisan para pengiktNabi Isa a.s. sehingga berubah dari bentuk dan isinya yang asli. Hal ini disyaratkan oleh Allah. Mereka memasukkan tulisannya kedalam Injil ialah Matius, Markus, Lukas, dan Yahya. Oleh karena itu, nama-nama kitab Injil yang ditemui sekarang diindentifikasikan dengan namanama mereka, sepertu Injil Matius, Injil Markus, Injil Lukas, dan Injil Yahya. (A. Hafidh Dasuki (red), 1994:224)
c. Kitab
Taurat
Taurat
(Ibrani: Thora) merupakan firman Allah yang diwahyukan kepada Nabi Musa a.s.
untuk membimbingBAni Israil. Oleh karena itu, keberlakuan kitab ini pun
dibatasi, yaitu samapai tiba Kitab Allah berikutnya. Ia pun waji diimani oleh
umat Islam dan banyak disebutkan di dalam Al-Quran. Hanya saja, dikatakan Sayid
Sabiq (1974: 268), kitab taurat yang beredar sekarang sudah tidak murni lagi,
kaena sudah terdapat sejumlah penambahan dari para pengikutnya.
A
Hafidh Dasuki (1994: 93-95) menjelaskan bahwa Taurat merupakan salah satu dari
komponen (Thora, Nabiin, dan Khetubiin) yang terdapat di dalam kitab suci agama
Yahudi yang disebut Biblia (al-Kitab) yang oleh orang kristen disebut dengan
Old Testament (perjanjian Lama).
Taurat yang terdapat pada Perjanjian Lama itu terdiri dari lima kitab, yaitu Kitab Kejadian (Genesis) yng berisi kisah tentang kejadian alam; Kitab Keluaran (Exodus) yang berisi kisah keluarnya Bani Israil dari Mesir karena di tindas oleh Fir’aun, dan diturunkannya Sepuluh Perintah Tuhan (Ten Commandement); Kitab Imamat atau Leviticus yang berisi syariat agama Yahudi; suku Israil; dan Kitab Ulangan (Deuteronomy) yang berisi pengulangan kisah yang dikeluarkan dari tanah Mesir.
Taurat yang terdapat pada Perjanjian Lama itu terdiri dari lima kitab, yaitu Kitab Kejadian (Genesis) yng berisi kisah tentang kejadian alam; Kitab Keluaran (Exodus) yang berisi kisah keluarnya Bani Israil dari Mesir karena di tindas oleh Fir’aun, dan diturunkannya Sepuluh Perintah Tuhan (Ten Commandement); Kitab Imamat atau Leviticus yang berisi syariat agama Yahudi; suku Israil; dan Kitab Ulangan (Deuteronomy) yang berisi pengulangan kisah yang dikeluarkan dari tanah Mesir.
d. Kitab
Zabur
Istilah
Zabur, yang kata jamak zubur, didalam Al-Quran terdapat pada beberapa tempat.
Yang dimaksud zabur dalam tulisan ini ialah firman Allah Swt yang diwahyukan
kepada Nabi Dawud a.s. Zabur, dalam bahasa Arab, disebut dengan mazmur dan
jamaknya mazamir; dalam bahasa Ibrani disebut mizmor, dalam bahasa Suriani
disebut mazmor, dalam bahasa Etiophia disebut mazmur (lihat H.A.R. Gibb dan
J.H. Kramers, 1974: 649)
c) Rasul-Rasul Allah
Dokrin Islam mengajarkan agar setiap
orang Islam berima kepada semua rasul yang diutuskan oleh Allah swt tanpa
membedakan antara satu rasul dengan rasul lainnya. Secara bahasa, rasul
(Inggris; messenger, apostle) adalah orang yang diutus. Artinya, ia diutus
untuk menyampaikan berita rahasia, tanda-tanda yang akan datang, dan misi atau
risalah, secara terminologi, rasul berarti orang yang diutuskan oleh Allah Swt
untuk menyampaikan wahyu kepada umatnya.
Rasul adalah manusia biasa yang dipilih oleh Allah Swt dari keturuana yang mulia yang diberi berbagai keistimewaan, baik akal pikiran maupun kesucian ruhani. Keistimewaan para rasul merupakan bekal agar mereka cukup kuat mengemban berbagai kewajiban yang dikandung dalam risalah, disamping agar mereka menjadi suri teladan bagi umatnya. Sebagai manusia biasa, rasul adalah seperti layaknya manusia lainnya yang suka makan minum, tidur, hubungan seksual, terkena penyakit seperti yang dialami Nabi Aiyub a.s. Hanya saja, dilihat dari aspek gender, para rasul itu pasti para laki-laki.
Rasul adalah manusia biasa yang dipilih oleh Allah Swt dari keturuana yang mulia yang diberi berbagai keistimewaan, baik akal pikiran maupun kesucian ruhani. Keistimewaan para rasul merupakan bekal agar mereka cukup kuat mengemban berbagai kewajiban yang dikandung dalam risalah, disamping agar mereka menjadi suri teladan bagi umatnya. Sebagai manusia biasa, rasul adalah seperti layaknya manusia lainnya yang suka makan minum, tidur, hubungan seksual, terkena penyakit seperti yang dialami Nabi Aiyub a.s. Hanya saja, dilihat dari aspek gender, para rasul itu pasti para laki-laki.
Diantara
tugas yang diemban oleh para rasul adalah:
a) Mangajar
tauhid dengan segala sifat-sifat-Nya
b) Mangajak manusia agar hanya menyembah dan
meminta pertolongan hanya kepada Allah
c) Mengajarkan
kepada manusia agar memiliki moral atau akhlak yang mulia
d) Mengajarkan
kepada manusia norma-norma kehidupan agar selamat didunia dan diakhirat
e) Mengajak
manusia agar bersemangat dalam bekerja dan berusaha serta menjauhkan
sifat-sifat malas sehingga terjadi keseimbangan antara kehidupan dunia dan
akhirat
f) Mengajak
manusia agar tidak mengikuti hawa nafsu
g) Menyampaikan
berita-berita gaib, seperti malaikat, surga dan neraka, alan kubur dan alam
akhirat.
Dalam
rangka menyampaikan tugas rislahnya, para rasul dilengkapi dengan berbagai
bekal keutamaan seperti kitab, mukjizat, dan sifat-sifat kemulian. Adapun sifat-sifat
yang diberikan Allah kepada Rasul adalah sebagai berikut:
a)
Siddiq, artinya jujur
dan benar serta terhindar dari sifat dusta (al-kidzb) atau bohong
b)
Amanah, artinya dapat
dipercaya dan terhindar dari sifat khianat
c)
Tabligh, artinya
menyampaikan dan terhindar dari sifat al-kitman atau menyembunyikan sesuatu
d)
Fathanah, artinya
bijaksana dan brilian serta terhindar dari sifat al-jahl atau bodoh
e)
Ma’shum, artinya
senantiasa mendapatkan bimbingan dari Allah sehingga apabila melakukan
kkeliruan, lansung mandapatkan teguran dan koreksi dari Allah’
Jumlah
nabi dan rasul tidak diketahui secara pasti, karena ada sebagian dari mereka
yang diceritakan dan disebutkan nama-namanya secara lansung oleh Allah Swt,
tetapi ada juga yang tidak diceritakan. Namun, da sebagian ulama mengatakan
bahwa jumlah nabi itu adalah 124.000 orang dan rasul sebnayk 313 orang(A.
Hafidh Dasuki (red.), 1994: 159). Adapun jumlah nabi dan rasul yang pada
umumnya diketahui berjumlah 25 orang.
5. PERCAYA
PADA HARI AKHIR DAN KETETAPAN ALLAH
Kiamat
adalah masa dimana Allah akan menghalangi semua umat manusia roh dan binatang
menurut apa yang telah mereka lakukan. Hari yang dikenal dngan berbagai istilah
hari kebangkitan, hari penghakiman yang mana hal ini tidak dipercayai oleh
orang yang tidak beriman.
Manusia
itu tersusun dari dua unsur: tubuh kasar dan ruh. Ruh adalah urusan Allah yang
termasuk gaib. Ketika manusia mati, ruh tidak ikut mati tetapi kembali keaam
arwah. Oleh karena itu, akal pikiran manusia tidak mampu menerangkan ruh dengan
jelas.
Kematian
merupakan pintu bagi manusia untuk memasuki alam kedua, alam kubur atau biasa
disebut alam barzakh. Para ulam mengartikan alam barzakh sebagai periode antara
kehidupan dunia dan akhirat. Keberadaan dialam barzakh memungkikan seorang
dapat melihat kehidupan dunia dan akhirat. Ia bagaikan suatu ruangan kaca yang
penghuninya bisa melihat kebagian depan berupa hari kemudian dan ke arah
belakang pentas kehidupan dunia . Kehidupan dialam barzakh bisa menyenangkan,
bisa juga menyedihkan; bergantung pada kehidupan dalam kehidupan dunia. Jika
amalnya baik, baik pula kehidupan alam kuburnya; jika amal dunia buruk, buruk
pula kehidupan alam kuburnya.
Setelah
alam barzakh, manusia memasuki kehidupan tahap ketiga, yaitu alam akhirat. Alam
ini dimulai dengan peniupan sangkakala yang pertama saat terjadinya hari kiamat
yang pada saat itu pula segala makhluk mengalami kerusakan dan kematian kecuali
malaikat Israfil yang meniup sangkakala yang kedua . Tiupan sangkakala
kedua merupakan tiupan untuk membangkitkan makhluk dari kematian dan
selanjutnya digiring dan dikawal oleh para malaikat untuk berkumpul di
Padang Mahsyar (tempat berkumpulnya umat menghadapi pengadilan Allah).
Pengadilan
itu menggunakan timbangan yang sangat adil . Setelah melalui proses pengadilan,
manusia terbagi kepada dua kelompok: penghuni surga dan penghuni neraka. Surga
adalah tempat kebahagian dan neraka adalah tempat penyiksaan
BAB
III
Kesimpulan
Setelah memahani
tentang Doktrin kepercayaan dalam islam maka dapat kita tarik kesimpulan:
a. Doktrin
berasal dari bahasa Inggris “ doctrin’’ yang berarti ajaran atau norma yang
diambil dari wahyu yang diturunkan tuhan, atau pemikiran mendalam filosofis
yang diyakini mengandung kebenaran.
b. Doktrin
kepercayaan islam itu meliputi 6 aspek yan harus diyakini kebenarannya. Dan 6
aspek itu dalam islam dinamakan “ Rukun Iman ’’ yaitu :
1. Iman kepada
Allah
2. Iman kepada Malaikat Allah
3. Iman kepada Kitab-kitab Allah
4. Iman kepada Rasul-rasul Allah
5. Iman kepada Hari akhir
6. Iman kepada Qodo’ dan Qodar
2. Iman kepada Malaikat Allah
3. Iman kepada Kitab-kitab Allah
4. Iman kepada Rasul-rasul Allah
5. Iman kepada Hari akhir
6. Iman kepada Qodo’ dan Qodar
c. Terminologi
iman tidak hanya sekedar kepercayaan dan pengakuan adanya Allah tetapi mencakup
dimensi pengucapan dan perbuatan-keyakinan atau pengakuan merupakan gerbang
utama keimanan.
d. Keyakinan
itu adanya dihati. IQ merupakan pengakuan yang sngguh-sungguh tentang kebenaran
adanya Allah yang Maha Esa. Keyakinan ini selanjutnya diikuti dengan suatu
pernyataan lisan dalam bentuk melafalkan dua kalimat syahadat dan
direalisasikan dalam bentuk perbuatan ( amal ) unsur kerja yang nyata.
DAFTAR PUSTAKA
Prof. Dr. H. Abudin Nata. Metodologi studi islam. PT. Raja grafindo persada. Jakarta.
Willian J. Soal. Reading muslim for Christ. Moody prees Chicago 1991.
Atang Abd Hakim. Jai mubarok. Metodologi Studi Islam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar